Ada yang menarik dalam khotbah Jumat hari ini. Bukan karena khotbah di Jumat lain itu gak menarik, tapi topik hari ini begitu ‘nampar’ saya khususnya sebagai seorang muslim. Khotibnya punya suara yang lumayan keras dan lugas, ditambah dengan topik keren alhasil jemaah semua gak ada yang ngantuk. Mungkin
Pernah denger kata ‘amal’ gak ya? Konotasi kata amal kalo dalam bahasa Indonesia sekarang itu pasti diidentikan dengan aktivitas sukarela tanpa bayaran. Contoh deh, misal kita sering denger ‘acara amal’ atau ‘kotak amal’. Udah kebayang kan acaranya kayak gimana? Kata amal tertaut dengan bahasa Inggris ‘charity’. Bisa dibilang seperti itu.
Dalam Islam, amal atau (عمل) itu artinya sebuah pekerjaan. Kita ambil contoh surat At Taubah ayat 105 yang artinya kurang lebih seperti ini:
“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.“
Itu adalah contoh dari perintah Allah untuk kita dalam beramal atau bekerja. Dengan kata lain, bekerja itu adalah perintah langsung dari Allah. Tapi dalam islam pekerjaan yang kita lakukan juga harus diperhatikan karena ada batasan kalau amalan shalihan atau pekerjaan ‘baik’ saja yang akan Allah terima.
Sayang sekali ketika saya sendiri masih cukup sering melihat kata amal shaleh ini ditafsirkan dan kecilkan maknanya oleh sebagian dari umat Islam sendiri. Masih ada yang memilih untuk diam di masjid seharian dan sibuk berdzikir padahal dia adalah seorang suami dan ayah. Saya gak masalahin dzikirnya, tapi kita sebagai manusia punya peran di dunia ini. Bukan hanya sebagai hamba Allah, tapi juga sebagai manusia, sebagai anak, sebagai suami, sebagai ayah yang punya berlapis tanggung jawab yang harus ditanggung. Dengan meninggalkan itu semua dan hanya memilih untuk mengerjakan satu jenis pekerjaan saja dan mengira itu perintah ibadah kayaknya agak keliru sih.
Ini nyata dan saya melihat sendiri. Ada seorang suami yang sehari sibuknya di mesjid, tapi istri anak terbengkalai. Istri kurang ternafkahi, dan anak tidak terdidik dengan baik. Padahal nabi sendiri tidak mencontohkan hal seperti itu. Saya ingat sebuah hadits, tapi lupa sanad dan detailnya. Haditsnya bercerita tentang salah seorang sahabat yang melakukan hal yang sama. Dia melihat nabil shalat malam sekian banyak, dia ingin melakukan lebih. Dia melihat nabi shaum, dia ingin melakukan shaum lebih lama. Sehingga kehidupannya terbengkalai karena sibuk ‘beribadah maksimal’ tadi. Akhirnya dia ditegur oleh nabi. Rasulullah berkata, kalau tidak ada yang punya keimanan seperti dirinya, namun dia masih bisa menafkahi keluarganya, masih bisa menyusun strategi perang, masih bisa melakukan hal lain.
Hal menyayangkan lainnya, kita sering menemukan juga kegiatan meminta-minta dari seorang muslim. Entah itu mengamen, mengemis di jalan, dan sejenisnya. Mungkin untuk golongan fakir atau tua dan itu terpaksa karena darurat, masih diperbolehkan. Tapi banyak sekali orang yang dari segi fisik masih kuat, masih optimum jika digunakan tenaganya, memilih untuk meminta-minta karena mungkin prosesnya lebih praktis dan proven yaa menghasilkan cuan lebih cepat. Tapi tidak banyak dari kita tau kalau hal itu dilarang? Cekidot.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”. (Imam Ahmad No.17508)
Karena banyaknya yang belum paham dengan konsep ini, akhirnya kebanyakan dari yang meminta-minta selalu ditautkan atau diidentikan dengan muslim. Padahal dari sononya gak pernah ada arahan untuk meminta-minta, bahkan itu sangat dilarang.
Jadi Muslim Susah Kaya?
Nah, ada lagi satu temuan yang mencengangkan. Ternyata di masyarakat kita umumnya masih ada stigma, kalau menjadi muslim yang taat itu susah kaya. Entah darimana ini datangnya, tapi kalau ditelusuri dengan temuan sebelumnya di paragraf atas, ya bisa jadi nyambung sih. Hehe.
Tergantung balik lagi ke konsep ‘muslim taat’ yang beredar di benak masyarakat kita. Kalau taat itu diartikan dengan diem di mesjid 24 jam tiap hari, ya itu kurang tepat. Dan itu juga bukan bentuk dari sebuah ketaatan. Kenapa? Karena untuk bekerja, mencari nafkah itu adalah sebuah perintah! Berarti kalo gak kerja ya gak taat sama Allah dong.
Point menarik lain dari apa yang dishare khotib tadi adalah, bahwa selama kita hidup di dunia ini, hukum alam akan berlaku. Siapa yang cepat dia dapat. Siapa yang bisa bekerja keras, apalagi kerja cerdas mungkin lebih beruntung. Let say dalam benak kita pernah terbesit, kok bisa sih negara barat atau non muslim itu pada kaya. Ya jawabannya adalah, mungkin mereka memang bekerja sangat keras dan juga bekerja cerdas untuk dapetin itu.
Disisi lain, mayoritas muslim di Indonesia, atau di dunia masih banyak yang menafsirkan amal tadi. Akhirnya mengesampingkan apa yang namanya bekerja, berusaha, belajar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Faktor lain juga bisa jadi, karena kita sebagai muslim punya batasan. Batasan untuk mengerjakan amalan shaleh, atau baik, mencari nafkah atau rezeki halal yang mungkin ini tidak dikenal sama orang nonmuslim.
So, kita harusnya bisa lebih pintar dan lebih kreatif. Dengan batasan yang Allah tetapkan, kita harus tetap bisa berkompetisi, bekerja keras dan cerdas agar mendapat hasil yang baik di dunia. Ditambah, dalam waktu yang bersamaan kita bisa menjaga keseimbangan untuk mencari kebaikan dan bekal untuk akhirat nanti.
Inilah jawaban, kenapa sih kita harus tetap ibadah, berdoa kepada Allah. Selain itu juga diperintah, dengan berdoa kita secara tidak langsung diingatkan posisi kita itu adalah manusia yang tetap membutuhkan Allah. Bukan menjadi manusia yang sombong, yang merasa apa yang didapatkan di dunia ini adalah hasilnya sendiri. Berdoa juga menjadi media untuk kita bisa terhubung dengan Allah, agar kita tetap bisa mendapat petunjuk agar bisa tetap di jalan yang diridhai. Kita tahu, manusia itu biang salah dan lupa.
Bayangkan, berdoa setiap hari aja masih dapet ujian, dan punya possibility untuk melakukan kesalahan atau belok dari jalan yang seharusnya. Apalagi yang jarang atau tidak pernah sama sekali.

Leave a comment